Home > Uncategorized > “Mathematics As Human Activities”

“Mathematics As Human Activities”

Aktivitas Matematika

Salah satu sebab mengapa PMR diterima di banyak negara adalah karena konsep PMR itu sendiri. Berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal, dalam PMR matematika dianggap sebagai aktivitas insani (mathematics as human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Menurut filsafat PMR siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika di bawah bimbingan orang dewasa (Gravemeijer, 1994), dan penemuan kembali ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai persoalan dan situasi ‘dunia riil’ (de Lange, 1995). 

Selanjutnya, di dalam PMR proses belajar memainkan peranan yang penting. Rute belajar (learning route), di mana siswa dapat menemukan hasil berdasarkan usaha mereka sendiri, harus dipetakan (Gravemeijer, 1997). Dengan demikian, dalam PMR guru harus mengembangkan pengajaran yang interaktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif berpartisipasi dalam proses belajar mereka sendiri.

Dalam PMR, dunia nyata (real world) digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika. Dunia nyata adalah segala sesuatu di luar matematika, seperti mata pelajaran lain selain matematika, atau kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita  (Blum & Niss, 1989). De Lange (1996) mendefinsikan dunia nyata sebagai suatu dunia nyata yang kongkret, yang disampaikan kepada siswa melalui aplikasi matematika. Begitulah cara kita memahami proses belajar matematika yang terjadi pada siswa, yaitu terjadi pada situasi nyata.

Gambar 1. Matematisasi Konseptual (de Lange, 1996)

Proses pengembangan ide dan konsep matematika yang dimulai dari dunia nyata oleh de Lange (1996) disebut ‘matematisasi konseptual’. Suatu model skematis untuk proses belajar ini digambarkan sebagai suatu sikel (lingkaran) yang tidak berujung, yang berarti proses lebih penting daripada hasil (Gambar 2.1). Diasumsikan bahwa pengetahuan merupakan proses transformasi yang secara terus menerus dibentuk dan dibentuk kembali (continuosly created and recreated), bukan merupakan entitas bebas untuk dikuasai atau disampaikan. Dunia nyata siswa disesuaikan terus-menerus (de Lange, 1996).

(Oleh: Tim P4MRI Unlam)

sumber : http://p4mriunlam.wordpress.com

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: