Pembelajaran Mengurutkan Bilangan

LABEL HARGA HYPERMART UNTUK MENGURUTKAN BILANGAN

A.      Pendahuluan

Salah satu permasalahan yang menyangkut pengelolaan proses belajar mengajar mata pelajaran matematika di SD adalah kurangnya pengetahuan bagi guru SD, serta terbatasnya dana dan sarana tentang bagaimana cara membuat dan menggunakan desain pembelajaran dalam pembelajaran matematika. Dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan mengajar untuk membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Hal tersebut bisa dilakukan dengan berbagai macam cara atau strategi yang tentunya disesuaikan dengan materi yang diajarkan.

Materi pelajaran bilangan bulat merupakan salah satu materi dasar yang seharusnya dikuasai siswa sebagai prasyarat untuk materi-materi palajaran matematika lainnya. Selama ini kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung menekankan kepada daya imajinasi siswa. Sebagai contoh, guru terbiasa menggunakan garis bilangan untuk mengajarkan konsep membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat. Siswa diharuskan mengerti mengenai konsep bilangan bulat dengan simbol-simbol angka yang ada di garis bilangan. Bagi siswa yang memiliki daya nalar dan imajinasi tinggi dapat dengan mudah mengenai konsep tersebut, namun siswa dengan kemampuan sedang bahkan rendah akan kesulitan untuk dapat memahami konsep tersebut. Sehingga guru seharusnya mengajarkan konsep matematika dengan mempertimbangkan kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa. Kegiatan yang diberikan sebagai pengalaman belajar siswa harus berorientasi agar siswa aktif dalam belajar, iklim belajar menyenangkan, fungsi guru lebih ditekankan sebagai fasilitator dari pada sebagai pemberi informasi, siswa terbiasa mencari sendiri informasi (dengan bimbingan guru) dari berbagai sumber, siswa dibekali dengan kecakapan hidup dan dibiasakan memecahkan  permasalahan yang kontektual yaitu terkait dengan lingkungan (nyata maupun maya) dari siswa.

Berdasarkan pada uraian diatas, siswa pada usia sekolah dasar dalam  memahami konsep-konsep bilangan bulat masih sangat memerlukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan benda nyata (pengalaman-pengalaman konkret) yang dapat diterima akal mereka.

Dalam pembelajaran ini, desainer mencoba mengemukakan salah satu  bentuk pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan untuk materi bilangan bulat kelas IV di SD Muhammadiyah 6 Palembang. Dalam penyampaian pembelajaran ini desainer dan guru menggunakan konteks supermarket, sedangkan manipulative yang digunakan adalah label harga product.

Desain pembelajaran ini bertujuan agar siswa mampu meningkatkan  keterampilan memahami konsep bilangan bulat dengan menggunakan konteks dalam kehidupan sehari-hari melalui manipulative yang digunakan. Serta memberikan pengetahuan tambahan bagi guru  tentang  pembelajaran yang menggunakan pendekatan PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) sehingga menambah wawasan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika di kelas.

B.       Design Research

1.        Preliminary Design

Sebelum membuat desain pembelajaran, desainer mengawali dengan melakukan observasi terhadap proses pembelajaran. Berdasarkan observasi tersebut, menurut desainer banyak siswa cenderung untuk berbicara dengan temannya dan tidak memperhatikan pelajaran. Bagi siswa yang berkemampuan tinggi tidak begitu bermasalah namun bagi siswa yang berkemampuan sedang bahkan rendah besar sekali pengaruhnya, karena apa yang dijelaskan guru tidak dapat diterima dengan jelas akibatnya dalam mengerjakan tugas senantiasa menemui kesulitan. Oleh karena itu, desainer mencoba menggunakan desain pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi serta kemampuan matematika siswa. Sebelum tahap pelaksanaan di lapangan, desainer terlebih dahulu merancang desain pembelajaran yang nanti akan diajarkan.

Berdasarkan hasil pembicaraan dengan guru, maka ditetapkan bahwa pembelajaran yang akan diajarkan selanjutnya adalah materi membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat di kelas IV, agar lebih merangsang minat siswa untuk belajar maka desainer ingin menggunakan konteks supermarket dengan bantuan manipulative label harga product. Saat berkonsultasi dengan guru, desainer menganggap bahwa sebagian besar siswa tentunya sudah mengenal dengan label harga atau paling tidak siswa telah mengenal mengenai uang saat siswa berbelanja, sehingga pengetahuan yang dimiliki siswa tersebut tentunya akan mempermudah dalam pemahaman siswa nantinya.

Untuk membuat manipulative, desainer menggunakan majalah Hypermart yang didapatkan saat berbelanja di Palembang Indah Mall. Dari majalah tersebut, desainer memotong-motong bagian label harga menjadi potongan-potongan kecil. Beberapa label harga nantinya akan dibagikan kepada masing-masing kelompok agar semua siswa dapat bekerja sama didalam kelompoknya dengan membandingkan dan mengurutkan label harga tersebut. Setelah semua kelompok dinilai memahami konsep tersebut maka akan dilanjutkan dengan memberikan masalah-masalah agar bisa diselesaikan oleh siswa dengan menggunakan berbagai macam cara yang mereka ketahui. Sedangkan untuk evaluasi, digunakan LKS yang mengadopsi soal dari BSE Departemen Pendidikan Nasional dengan judul Ayo Belajar Matematika untuk Kelas IV SD karangan Burhan Mustaqim. Dari hasil LKS akan terlihat berbagai macam cara atau strategi yang digunakan siswa untuk membandingkan serta mengurutkan bilangan bulat tersebut.

Berdasarkan desain pembelajaran tersebut, desainer memprediksi sebagian besar siswa tidak akan menemui kesulitan besar dalam memahami konsep membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat ini. Kemungkinan besar siswa hanya akan tertukar dalam mengurutkan satu atau dua label harga dikarenakan angka dari label tersebut cukup mirip ataupun karena harganya yang terlalu besar karena desainer mencoba untuk menyertakan label harga sampai ratusan ribu. Jadi desainer memprediksi masalah siswa nantinya hanya mengenai ketelitian saja.

2.        Teaching Experiment

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian pendahuluan, pembelajaran ini dilaksanakan di kelas IV SD Muhammadiyah 6 Palembang dilakukan selama satu kali pertemuan, tepatnya pada tanggal 20 September 2011 dengan guru pengajar Ibu Humaro, S.Pd. Siswa yang terlibat sebanyak 46 siswa.

Adapun pelaksanaan pembelajaran ini dilaksanakn dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Guru menjelaskan pada siswa mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan. 2) Guru memberikan apersepsi secara klasikal, mengenai prasyarat yang harus dikuasai siswa sebelum mempelajari tentang materi bilangan bulat. 3) Siswa diminta untuk membandingkan beberapa label harga. 4) Siswa diminta untuk mengurutkan beberapa daftar harga. Dimulai dengan mengurutkan dari harga yang paling murah sampai dengan harga paling mahal, kemudian sebaliknya. 5) Siswa mengerjakan LKS.

Guru membagikan beberapa label harga untuk masing-masing kelompok. Tiap kelompok hanya terdiri atas pasangan (2 orang) saja. Pada dasarnya semua siswa tidak menemui kesulitan dalam mengurutkan bilangan bulat, khususnya proses mengurutkan dari harga paling murah sampai harga paling mahal. Hal ini dikarenakan sebelumnya guru telah mengenalkan mengenai nilai tempat sampai dengan puluhan ribu.

Diluar perkiraan desainer, karena sebelumnya guru hanya mengenalkan nilai tempat hingga puluhan ribu. Namun ternyata saat dicoba memberikan daftar harga hingga ratusan ribu, siswa tetap dapat mengurutkannya dengan benar. Bahkan saat ditanya oleh guru, siswa dapat melafalkan dengan fasih harga ratusan ribu tersebut dan mengetahui dengan jelas nilainya karena siswa terbiasa menggunakan uang dalam kehidupannya sehari-hari untuk berbelanja.

Namun sedikit berbeda hasilnya ketika siswa diminta untuk mengurutkan harga dari yang paling mahal sampai dengan harga yang paling murah. Siswa ketika itu sedikit kesulitan untuk mengurutkannya dan ada beberapa kelompok yang salah dalam mengurutkan. Beberapa kelompok merasa sudah yakin dengan urutan yang mereka buat, namun ada kelompok lainnya yang berbeda pendapat dengan teman pasangannya dalam mengurutkan label harga tersebut.

Guru kemudian menjelaskan kembali kepada kelompok yang salah dalam mengurutkan tersebut mengenai kesalahan yang mereka perbuat. Guru dan siswa kembali berdiskusi mengenai urutan harga tersebut. Kebanyakan siswa mengalami kesalahan dalam mengurutkan harga yang mirip sehingga guru mencoba untuk mengingatkan siswa kembali mengenai nilai tempat setelah itu baru meminta siswa untuk memperhatikan angka-angka yang mewakili masing-masing nilai tempat tersebut. Sayangnya ketika ada kesalahan tersebut, guru tidak mengembalikan untuk didiskusikan dengan kelompok yang lain. Seandainya kelompok lain diberi kesempatan mengetahui kesalahan tersebut, tentunya akan menjadi pengalaman penting bagi siswa untuk mengoreksi kembali mengenai kesalahan dari kelompok tersebut. Sehingga dalam hal ini, masing-masing kelompok tidak tahu mengenai kejadian serupa yang mungkin saja terjadi ketika muncul masalah nanti.

Setelah mengetahui urutan label harga dari murah menjadi lebih mahal, maupun sebaliknya dari mahal menjadi murah di kelompoknya masing-masing, kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan mengerjakan LKS. Tidak seperti kegiatan sebelumnya dimana guru hanya membuat group pasangan teman berdampingan, saat mengerjakan LKS ini, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, dimana setiap kelompok beranggotakan 3 siswa.

Setiap kelompok menjawab soal pertama dengan benar, a) urutan bilangan dari kecil menjadi besar, sedangkan bagian b) urutan bilangan dari besar menjadi kecil. Cara yang digunakan siswa yakni dengan membandingkan tiap bilangan pada soal tersebut, kemudian memberi label pada harga-harga tersebut sesuai dengan urutannya.

Berdasarkan hasil jawaban siswa, terlihat bahwa siswa tidak mengalami kesulitan mengurutkan bilangan kecil menjadi besar. Namun, saat mengurutkan bilangan dari yang lebih besar menjadi kecil, beberapa kelompok mengalami kesalahan karena ketidaktelitian. Semua siswa menjawab dengan benar poin a) harga yang paling mahal. Namun, ada salah satu kelompok yang salah dalam menjawab poin b) harga yang paling murah. Akan tetapi, kelompok tersebut kembali benar saat menjawab poin c) mengurutkan dari harga paling mahal sampai dengan harga paling murah. Hal ini karena siswa tersebut tidak teliti dalam mengamati soal.

Namun yang sangat menarik, saat proses pengerjaan LKS berlangsung desainer melihat ada satu kelompok yang mengerjakan soal kedua tersebut dimulai dari poin c) urutan harga paling mahal sampai dengan paling murah. Dengan mengerjakan poin tersebut lebih dahulu, mereka bisa melihat dengan jelas urutannya terlebih dulu, kemudian tinggal menentukan harga yang paling mahal untuk poin a), dan harga paling murah untuk poin b).

Hal tersebut menunjukkan kreativitas yang dimiliki oleh siswa, mereka tidak terpaku mengikuti sistematika soal, namun lebih memperhatikan untuk menyelesaikan sistematika masalah. Mereka lebih membuka pikiran untuk memahami tentang apa masalah utama dari soal tersebut. Setelah mengetahui bahwa masalah utama adalah mengenai urutan bilangan, mereka memutuskan untuk mengurutkan bilangan tersebut terlebih dahulu kemudian bisa dengan mudah mengetahui harga yang paling mahal dan paling murah dari urutan yang sudah benar.

3.        Retrospective Analysis

Dari hasil refleksi, desainer dan guru beranggapan bahwa:

1)        Secara umum, siswa tidak kesulitan untuk mengurutkan bilangan bulat.

2)        Beberapa siswa hanya mengalami kesulitan untuk mengurutkan bilangan dari yang besar menjadi lebih kecil.

3)        Kesalahan yang dibuat siswa sebagian besar hanya karena ketidaktelitian.

4)        Siswa terbiasa hanya menyelesaikan suatu permasalahan yang bergerak maju, namun siswa akan mengalami kesulitan jika menyelesaikan permasalahan yang bergerak mundur.

C.      Penutup

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang pembelajaran pada materi membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat menggunakan pendekatan PMRI, dalam hal ini penggunaaan konteks supermarket dengan manipulative label harga product, disimpukan sebagai berikut:

Pertama, pembelajaran untuk materi membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat dengan menggunakan desain pembelajaran yang berdasarkan konteks sesuai dengan pengetahuan siswa dapat meningkatkan keaktifan siswa, mampu membuat siswa lebih bergairah untuk belajar, tidak ada rasa takut, giat, senang, dan kreatif.

Kedua, desain pembelajaran memberi kesempatan kepada desainer dan guru agar dapat berperan secara optimal agar dapat memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk memotivasi belajarnya.

  1. Revalina Adellia
    September 18, 2014 at 6:41 pm

    Apakah saya boleh meminta jawaban yang benar dari membandingkan bilangan bulat yaitu contoh -3 □2 JAWABAN NYA ADALAH

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: